
Yup, hahahay. Lagi-lagi cerita wayang. Hm, tenang saja. Celoteh kali ini saya usahakan terbaca seringan mungkin.
Layaknya Baladewa, saya tidak pandai berbasa-basi. Jadi, langsung saja ke cerita Gunungan ini.
Gunungan atau Kayon merupakan salah satu instrumen pewayangan yang multiguna. Ingat, bukan karakter, tapi instrumen, sama saja dengan pusaka, gendewa(busur), panah, maupun gada.
Kenapa multiguna? Karena oh karena….. Gunungan dapat digunakan oleh sang Dalang untuk menggambarkan berbagai jenis ****(I don't know how to meant it). Hm, langsung saja ke contohnya: gunungan dapat menggambarkan rumah, arca, perpindahan setting, dan tentunya (ini yang paling penting), menandai berawal atau berakhirnya suatu lakon. Istilah seperti tancep kayon misalnya, merupakan suatu sesi dalam pagelaran dimana Dalang menancapkan gunungan tersebut sebagai tanda berakhirnya suatu pagelaran.
Masih bingung? Haha, OK. Ringkasnya, guna Gunungan yaitu: menggambarkan perubahan setting, mewakili suatu tempat atau objek tertentu, tandan dimulai~pergantian waktu~dan berakhirnya suatu pagelaran, dan (apabila digerakkan dengan gerakan simultan tertentu) dapat menggambarkan adanya kebakaran~banjir~angin topan~maupun keluarnya suatu ajian oleh karakter wayang tertentu.
Selanjutnya, apa c arti gambar-gambar dari gunungan tersebut? Kalau saya bilang, dua raksasa yang berdiri di depan pintu itu penggambaran malikat Munkar dan Nakir, percaya? Terus, kalau saya bilang 4 saka(baca:tiang penyangga rumah) itu makna filosofisnya sama dengan do'a iftitah yang dibaca setiap Muslim dalam setiap sholatnya, ngandel? Lagi, kalau saya bilang 4 hewan yang ada digambar di gunungan tersebut ada dalam diri kita, *bosen ngomong percaya trus (percaya???) *I'm going mad…
Penasaran atau enggak. Post ini tetap saya pending di sini dan saya teruskan lain waktu. Huahm, setengah 3 pagi dan saia belum bisa tidur… -_-

